Kamis, 24 April 2014

tafsir tarbawi : pendidikan ibadah dalam alqur'an



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Tugas utama manusia hidup di dunia ini adalah beribadah kepada Allah SWT. Ibadah kepada-Nya merupakan bukti pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Dari berbagai ayat dan hadis dijelaskan bahwa pada hakekatnya manusia yang beribadah kepada Allah ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada wahyu Allah dan hadis Nabi SAW.
 Pengertian ibadah tidak hanya terbatas kepada apa yang disebut ibadah mahdhah atau rukun Islam saja, tetapi sangat luas seluas aspek kehidupan yang ada. Yang penting aktivitas yang kita lakukan harus diniatkan untuk ibadah kepada-Nya dan yang menjadi pedoman dalam mengontrol aktivitas ini adalah wahyu Allah dan sabda Rasul-Nya.
Ibadah adalah bahasa Arab yang secaca etimologi beraasl dari akar kata yang berarti taat,tunduk, patuh, merendahkan diri dan hina. Seseorang yang tunduk, patuh merendahkan dan hina diri dihadapan yang disembah disebut abid (yang beribadah) Dalam syari’at islam ibadah mempunyai dua unsur, yaitu ketundukan dan kecintaan yang paling dalam kepada Allah SWT. Unsur yang tertinggi adalah ketundukan, sedangkan kecintaan merupakan implementasi dari ibadah tersebut.menurut ahli fiqh, ibadah adalah :


“segala bentuk kekuatan yang engkau kerjakan untuk mencapai keridhaan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya diakhirat.”[1]

Disamping itu, ibadah merupakan wujud cinta kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala Larangan-Nya dengan mempedomani aturan-aturan syari’at yang ada. Karena disetiap unsur ibadah yang kita lakukan tentunya harus mempedomani al-qur’an dan as sunnah, dengan mempelajari dan mengamalkannya dengan kata lain pendidikan ibadah, karena banyak sekali fenomena beeribadah menurut kalangan masyarakat namun belum tentu sesuai dengan kadar-kadar aturan syari’at, terkadang masyarakat memberatkan atau meringankan suatu bentuk ibadah, contoh tidak melakukan sholat karena sakit, padahal seyogyanya sholat oleh orang yang sakit bisa saja dilakukan dengan berbaring, duduk atau sebagainya.
Semua tindakan atau ibadah kita selaku muslim, sudah ada didalam al qur’an maupun as sunnah, didalam keduanya terdapat pendidikan ibadah baik secara tersirat maupun tersurat, oleh karena fenomena-fenomena diatas, pemakalah tertarik pada pembahasan tafsir tarbawi ini dengan mengangkat judul Pendidikan Ibadah dalam Al qur’an.

1.2  Batasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka materi yang akan dibahas pada makalah ini dibatasi pada masalah yang berkaitan dengan :
a.       Qs Al-Bayyinah/98:5,
b.      Qs Thoha/20:132,
c.       Qs Al-Baqarah/2:183.

1.3  Tujuan Penulisan
     Penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi,dan dapat juga sebagai bahan bacaan bagi pembaca nantinya.

1.4  Manfaat Penulisan
      Penulisan makalah ini bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah wawasan dan informasi mengenai pendidikan ibadah dalam Al qur’an.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Qs Al-bayyinah/98:5
1.      Teks Ayat





 “Mereka tidak disuruh, melainkan untuk menyembah Allah, meluruskan ibadatnya hanya kepada Allah, berlaku lurus (condong kepada kebenaran), mendirikan shalat, membayar zakat, dan itulah agama yang sangat lurus”.

2.      Asbabun Nuzul
Karena adanya perpecahan  diantara mereka maka pada ayat ini dengan nada mencerca, Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah kebaikan dunia dan agama mereka,untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir dan batin dalam berbakti  kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik serta mematuhi agama Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekafiran  kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah SWT.
Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya bahwa mengapa mereka berpecah-belah setelah Nabi Muhammad SAW datang kepada mereka? Bukankah mereka adalah Rasul yang mereka tunggu-tunggu? Padahal sebenarnya tidak diperintahkan baik didalam kitab-kitab mereka dan seruan pada Rasul mereka,maupun didalam Al Qur`an dan seruan Rasululllah SAW, kecuali untuk beribadah kepada Allah semata dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Dengan meninggakkan semua agama yang mereka ikuti dan memeluk agama islam. Mereka juga diperintahkan untuk menunaikan shalat pada waktunya dengan memperhatikan tata caranya,syarat dan rukunnya.Serta diperhatikan pula mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk fakir dan miskin.Itulah agama yang lurus mengantarkan seorang hamba untuk mendapatkan ridha-Nya dan surga yang abadi yang selamat dari siksa dan amarah-Nya.[2]
Didalam tafsir An Nur dijelaskan bahwa mereka bercerai-berai dan terlibat sengketa, sedangkan sesungguhnya mereka diperintahkan mengerjakan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi dunia dan akhiratnya, serta hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan dalam hidup ini ataupun hidup yang akan datang. Mereka disuruh bersikap ikhlas kepda Allah, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terbuka. Selain itu, juga membersihkan amalan-amalannya dari paham syirik dan mengikuti agama Ibrahim yang membenci keberhalaan. Sebaliknya, mereka diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat.
Berlaku ikhlas kepada Allah, beribadat dan menjauhkan diri dari paham syirik, mendirikan shalat dengan sempurna, serta mengeluarkan zakat sebagaimana mestinya, itulah agama yang lurus. Agama kitab-kitab yang benar, yang belum diubah-ubah, dan tidak pernah terjamah oleh tangan kotor manusia.[3]

3.      Hadis pendukung


Artinya: “DariAbu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi ia melihat/memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu”. (HR. Muslim)


4.      Analisis Kependidikan
Ayat tersebut di atas tentang keikhlasan beribadat serta menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat itulah yang dimaksud dengan agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Maksud ungkapan-ungkapan yang telah lalu bahwa orang-orang ahli Kitab berselisih dalam memahami dasar-dasar agama mereka dan furuk-furuknya, padahal mereka diperintahkan untuk memperhambakan diri kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam akidah.
 Mendirikan shalat adalah merupakan ibadah jasmani yang mulia. mengerjakan terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah ketika salat. Dan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu berbuat baik kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Adapun agama yang lurus yaitu agama yang berdiri tegak lagi adil atau ummat yang lurus dan tidak menyimpang.
Bahwasanya Allah SWT memerintahkan kepada umat manusia supaya menyembah kepada-Nya, dengan cara memurnikan agama Islam, supaya mereka tidak termasuk orang-orang kafir karena orang kafir merupakan seburuk-buruk makhluk Allah SWT, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat selanjutnya.
B.     Qs Thoha/20:132
1.      Teks ayat






Artinya : “dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang member rezki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.””

2.      Asbabun Nuzul
Ibnu abi syaiba dan Ibnu Murdawaih dan Bazar dan Abu ya’la setelah mengetengahkan sebuah hadis melalui abi Rofi’ yang telah menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima tamu dan mau menjamu tamunya, kemudian Nabi mengurusku kepada seorang lelaki yahudi untuk meminjam sekantung terigu darinya dan akan dibayar nanti pada permulaan bulan rajab, maka orang yahudi ini berkata “tidak, kecuali apabila ia memakai jaminan”. Lalu aku datang kepada Nabi Muhammad SAW dan melaporkan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh orang yahhudi tersebut. Maka nabi bersabda “ingatlah demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang dipercaya di langit dan di bumi ini”. Dan aku tidak berpamitan untuk meninggalkan majlis  Nabi Muhammad SAWmsehingga turunlah ayat ini.
Setelah turunnya surat ini, rasulullah berangkat kerumah Fatimah r,a dan menyuruh putrinya tersebut mengerjakan shalat dalam menghadapi segala kesulitan dalam hidup. Nabi Muhammad SAW melakukan perbuatan ini yaitu menyuruh putrinya untuk shalat dalam menghadapi kesulitan  selama sebulan. Inilah sunnah rasulullah yaitu menegakkan shalat ketika dilanda kesusahan. Beliau menegakkan sunnah ini lewat dakwah bilhal, yaitu mengamalkan dan memerintahkan sehingga orang-orang kafir yang salaf yang shaleh senantiasa memelihara sunnah yang agung ini apabila dilanda kesusahan.[4]

3.      Analisis Kependidikan
Didalam dunia pendidikan para pendidik, sudah barang tentu termasuk orang-orang yang paling pertama terkena perintah pengarahan diatas, karena pendidik adalah panutan yang akan senantiasa diikuti dan ditiru, ia juga adalah penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan ajaran islam. Jika pendidik tidak menghiasi dirinya dengan taqwa, prilaku dan pergaulan yang berjalan di atas metode islam, maka anak akan tumbuh menyimpang, terombang ambing dalam kerusakan, kesesatan dan kebodohan.mengapa? karena anak melihat yang mendidik dan mengarahkannya telah berada dalam lumpur dosa,berselimut kemungkaran dan kerusakan.sang anak tumbuh tanpa ada penahan dari Allah,tanpa ada rasa muraqabah (mawas diri) kepada Allah dan tanpa ada kendali dari batinnya.wajar jika sang anak kemudian ternoda lumpur-lumpur dosa dan menyimpang dalam lingkungan jahiliyah dan zaman kesesatan dan kehancuran.
Karenanya, para pendidik hendaknya memahami realitas ini,jika menginginkan kebaikan ini, perbaikan dan petunjuk bagi anak-anak dalam lingkungan alam yang suci dan bersih.[5]

C.    Qs Al-baqarah/2:183

1.      Teks ayat





Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” 

2.      Asbabun Nuzul
Dari Ibnu Jarir dari Mu’adz bin Jabbal berkata bahwa rasulullah datang ke madinah pada hari “Asyura kemudian beliau berpuasa, kemudian beliau berpuasa dan beliau berpuasa 3 hari setiap bulannya. Kemudian Allah mewajibkan puasa Ramadhan dengan menurunkan qs al baqarah diatas, maka saat itu ada yang berkeinginan berpuasa, ada yang berbuka dan ada yang memilih untuk member makan orang miskin. Kemudian Allah SWT mewajibkan berpuasa bagi orang yang muqim (tidak bepergian) dan menetapkan kritera bagi yang memberi makan orang miskin yaitu orang yang sudah tua dan tidak mampu untuk berpuasa dengan menurunkan ayat selanjutnya.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini:”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengajak bicara ummat ini, dan memerintahkan kepada mereka untuk berpuasa. Puasa berari menahan diri dari makan, minum dan menggaul istri, dengan niat ikhlash karena Allah ‘Azza wa Jalla. Karena di dalamnya terdapat pembersihan,penyucian dan pemurnian jiwa dari pengaruh-penguaruh buruk dan akhlak-akhlak yang tercela.”
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata:“Allah Ta’ala mengabarkan tentang segala yang Dia karuniakan kepada hamba-hambaNya dengan cara mewajibkan atas mereka berpuasa sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa itu atas umat-umat terdahulu, karena puasa itu termasuk di antara syariat dan perintah yang mengandung kemaslahatan bagi makhluk di setiap zaman, berpuasa juga menambah semangat bagi umat ini yaitu dengan berlomba-lomba dengan umat lain dalam menyempurnakan amal perbuatan dan bersegera menuju kepada kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan puasa itu juga bukanlah suatu perkara sulit yang merupakan keistimewaan kalian.”
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman, { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } “Agar kamu bertakwa,” karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, karena berpuasa adalah merealisasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan di antara gambaran yang meliputi ketakwaan dalam puasa itu adalah bahwa orang yang berpuasa akan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah seperti makan, minum, melakukan jima’ dan semacamnya yang sangat diinginkan oleh nafsunya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah seraya mengharapkan pahala dalam meninggalkan hal-hal tersebut, inilah hal yang merupakan ketakwaan, di antaranya juga sebagai gambaran bahwasanya orang yang berpuasa itu melatih dirinya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, maka meninggalkan apa yang diinginkan oleh nafsunya padahal dia mampu melakukannya karena dia tahu bahwa Allah melihatnya.
Gambaran lain dalam puasa adalah bahwasanya puasa itu mempersempit gerakan setan karena setan itu selalu berjalan dalam tubuh manusia seperti jalannya darah, maka puasa akan melemahkan pengaruhnya dan meminimkan kemaksiatan, di antaranya juga bahwa seorang yang berpuasa biasanya akan bertambah ketaatannya, sedang ketaatan itu adalah gambaran dari ketakwaan, yang lainnya lagi adalah bahwa orang yang kaya bila merasakan susahnya kelaparan, pastilah ia menghibur kaum miskin lagi papa, dan ini pun dari gambaran ketakwaan.[6]

3.      Hadis pendukung
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


Artinya : “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah memberikan keringanan bagi musafir untuk tidak mengerjakan separoh shalat. Dan memberikan keringanan bagi musafir, wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa.” (HR.Abu Dawud)
4.      Analisis Kependidikan
Sebagai orang yang beriman, ayat diatas mengajarkan kita untuk menjadi orang yang bertakwa dengan melakukan puasa dibulan Ramadhan, dan mengikuti aturan-aturan dalam berpuasa.

Ayat ini juga mendorong umat ini agar semangat melakukannya, yakni hendaknya mereka berlomba-lomba dengan generasi sebelum mereka dalam menyempurnakan amalan dan bersegera kepada hal yang baik.
Puasa bukanlah hal yang berat yang hanya dibebankan kepada kita. Ayat di atas menerangkan bahwa puasa merupakan sebab terbesar untuk memperoleh ketakwaan. Puasa merupakan tameng bagi seseorang dari perbuatan maksiat, karena ia dapat melemahkan syahwat yang menjadi sumber maksiat.











  
BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah dipaparkan diatas kita ketauhi semua tindakan atau ibadah kita selaku muslim, sudah ada didalam al qur’an maupun as sunnah, didalam keduanya terdapat pendidikan ibadah baik secara tersirat maupun tersurat.
Tugas utama manusia hidup di dunia ini adalah beribadah kepada Allah SWT. Ibadah kepada-Nya merupakan bukti pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Dari berbagai ayat dan hadis dijelaskan bahwa pada hakekatnya manusia yang beribadah kepada Allah ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada wahyu Allah dan hadis Nabi SAW.
2.      Saran
Dengan adanya makalah ini penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang pendidikan aqidah dalam al qur’an dan juga dapat dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran.
















DAFTAR KEPUSTAKAAN
Zainuddin, Fiqih Ibadah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, hal 1
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al qur’anul Majid AnNnur, Jakarta: Cakrawala publishing, 2011, hal 600



































[1] Zainuddin, Fiqih Ibadah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, hal 1
[2] http://blitarq-doel.blogspot.com/2013/02/ayat-al-quran-tentang-ibadah.html
[3] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al qur’anul Majid AnNnur, Jakarta: Cakrawala publishing, 2011, hal 600
[4] http://umat10slamet.blogspot.com/2011/11/shurat-thaha-ayat-131-132-tafsir.html
[5] Syarifuddinblogspot.com2013
[6] http://islami-myfavorite.blogspot.com/2011/06/puasa-perspektif-qs-al-baqarah-183-185.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar