BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah
Tugas utama manusia hidup di dunia ini adalah beribadah kepada
Allah SWT. Ibadah kepada-Nya merupakan bukti pengabdian seorang hamba kepada
Tuhannya. Dari berbagai ayat dan hadis dijelaskan bahwa pada hakekatnya manusia
yang beribadah kepada Allah ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu
berpegang teguh kepada wahyu Allah dan hadis Nabi SAW.
Pengertian ibadah tidak
hanya terbatas kepada apa yang disebut ibadah mahdhah atau rukun Islam saja,
tetapi sangat luas seluas aspek kehidupan yang ada. Yang penting aktivitas yang
kita lakukan harus diniatkan untuk ibadah kepada-Nya dan yang menjadi pedoman
dalam mengontrol aktivitas ini adalah wahyu Allah dan sabda Rasul-Nya.
Ibadah adalah bahasa Arab yang secaca
etimologi beraasl dari akar kata yang berarti taat,tunduk, patuh, merendahkan
diri dan hina. Seseorang yang tunduk, patuh merendahkan dan hina diri dihadapan
yang disembah disebut abid (yang beribadah) Dalam syari’at islam ibadah
mempunyai dua unsur, yaitu ketundukan dan kecintaan yang paling dalam
kepada Allah SWT. Unsur yang tertinggi adalah ketundukan, sedangkan kecintaan
merupakan implementasi dari ibadah tersebut.menurut ahli fiqh, ibadah adalah :
“segala bentuk kekuatan yang engkau kerjakan untuk mencapai keridhaan
Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya diakhirat.”[1]
Disamping itu, ibadah merupakan wujud
cinta kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi
segala Larangan-Nya dengan mempedomani aturan-aturan syari’at yang ada. Karena
disetiap unsur ibadah yang kita lakukan tentunya harus mempedomani al-qur’an
dan as sunnah, dengan mempelajari dan mengamalkannya dengan kata lain
pendidikan ibadah, karena banyak sekali fenomena beeribadah menurut kalangan
masyarakat namun belum tentu sesuai dengan kadar-kadar aturan syari’at,
terkadang masyarakat memberatkan atau meringankan suatu bentuk ibadah, contoh
tidak melakukan sholat karena sakit, padahal seyogyanya sholat oleh orang yang
sakit bisa saja dilakukan dengan berbaring, duduk atau sebagainya.
Semua tindakan atau ibadah kita selaku
muslim, sudah ada didalam al qur’an maupun as sunnah, didalam keduanya terdapat
pendidikan ibadah baik secara tersirat maupun tersurat, oleh karena
fenomena-fenomena diatas, pemakalah tertarik pada pembahasan tafsir tarbawi ini
dengan mengangkat judul Pendidikan Ibadah dalam Al qur’an.
1.2 Batasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup
pembahasan, maka materi yang akan dibahas pada makalah ini dibatasi pada
masalah yang berkaitan dengan :
a. Qs Al-Bayyinah/98:5,
b. Qs Thoha/20:132,
c. Qs Al-Baqarah/2:183.
1.3 Tujuan
Penulisan
Penulisan
makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi,dan dapat
juga sebagai bahan bacaan bagi pembaca nantinya.
1.4
Manfaat Penulisan
Penulisan
makalah ini bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah wawasan dan informasi
mengenai pendidikan ibadah dalam Al qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Qs Al-bayyinah/98:5
1.
Teks Ayat
“Mereka tidak disuruh, melainkan untuk
menyembah Allah, meluruskan ibadatnya hanya kepada Allah, berlaku lurus
(condong kepada kebenaran), mendirikan shalat, membayar zakat, dan itulah agama
yang sangat lurus”.
2.
Asbabun Nuzul
Karena adanya perpecahan
diantara mereka maka pada ayat ini dengan nada mencerca, Allah
menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah. Perintah
yang ditujukan kepada mereka adalah kebaikan dunia dan agama mereka,untuk
mencapai kebahagian dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir dan batin dalam
berbakti kepada Allah dan membersihkan
amal perbuatan dari syirik serta mematuhi agama Nabi Ibrahim yang menjauhkan
dirinya dari kekafiran kaumnya kepada
agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah SWT.
Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya bahwa mengapa mereka
berpecah-belah setelah Nabi Muhammad SAW datang kepada mereka? Bukankah mereka
adalah Rasul yang mereka tunggu-tunggu? Padahal sebenarnya tidak diperintahkan
baik didalam kitab-kitab mereka dan seruan pada Rasul mereka,maupun didalam Al
Qur`an dan seruan Rasululllah SAW, kecuali untuk beribadah kepada Allah semata
dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Dengan meninggakkan semua agama yang
mereka ikuti dan memeluk agama islam. Mereka juga diperintahkan untuk
menunaikan shalat pada waktunya dengan memperhatikan tata caranya,syarat dan
rukunnya.Serta diperhatikan pula mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka
untuk fakir dan miskin.Itulah agama yang lurus mengantarkan seorang hamba untuk
mendapatkan ridha-Nya dan surga yang abadi yang selamat dari siksa dan
amarah-Nya.[2]
Didalam tafsir An Nur dijelaskan bahwa mereka bercerai-berai dan
terlibat sengketa, sedangkan sesungguhnya mereka diperintahkan mengerjakan
hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi dunia dan akhiratnya, serta hal-hal
yang mendatangkan kebahagiaan dalam hidup ini ataupun hidup yang akan datang.
Mereka disuruh bersikap ikhlas kepda Allah, baik dalam keadaan tersembunyi
maupun terbuka. Selain itu, juga membersihkan amalan-amalannya dari paham
syirik dan mengikuti agama Ibrahim yang membenci keberhalaan. Sebaliknya,
mereka diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat.
Berlaku ikhlas kepada Allah, beribadat dan menjauhkan diri dari
paham syirik, mendirikan shalat dengan sempurna, serta mengeluarkan zakat
sebagaimana mestinya, itulah agama yang lurus. Agama kitab-kitab yang benar,
yang belum diubah-ubah, dan tidak pernah terjamah oleh tangan kotor manusia.[3]
3.
Hadis pendukung
Artinya: “DariAbu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW
bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi ia
melihat/memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu”. (HR.
Muslim)
4. Analisis
Kependidikan
Ayat
tersebut di atas tentang keikhlasan beribadat serta menjauhkan diri dari
syirik, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat itulah yang dimaksud dengan
agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Maksud
ungkapan-ungkapan yang telah lalu bahwa orang-orang ahli Kitab berselisih dalam
memahami dasar-dasar agama mereka dan furuk-furuknya, padahal mereka
diperintahkan untuk memperhambakan diri kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam
akidah.
Mendirikan shalat adalah merupakan ibadah
jasmani yang mulia. mengerjakan terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan
jiwa kepada kebesaran Allah ketika salat. Dan yang dimaksud dengan mengeluarkan
zakat yaitu berbuat baik kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang
membutuhkan. Adapun agama yang lurus yaitu agama yang berdiri tegak lagi adil
atau ummat yang lurus dan tidak menyimpang.
Bahwasanya
Allah SWT memerintahkan kepada umat manusia supaya menyembah kepada-Nya, dengan
cara memurnikan agama Islam, supaya mereka tidak termasuk orang-orang kafir
karena orang kafir merupakan seburuk-buruk makhluk Allah SWT, sebagaimana yang
diterangkan dalam ayat selanjutnya.
B.
Qs Thoha/20:132
1.
Teks ayat
Artinya : “dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang member rezki
kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.””
2.
Asbabun Nuzul
Ibnu abi syaiba dan Ibnu
Murdawaih dan Bazar dan Abu ya’la setelah mengetengahkan sebuah hadis melalui
abi Rofi’ yang telah menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima tamu dan mau
menjamu tamunya, kemudian Nabi mengurusku kepada seorang lelaki yahudi untuk
meminjam sekantung terigu darinya dan akan dibayar nanti pada permulaan bulan
rajab, maka orang yahudi ini berkata “tidak, kecuali apabila ia memakai
jaminan”. Lalu aku datang kepada Nabi Muhammad SAW dan melaporkan kepadanya apa
yang telah dikatakan oleh orang yahhudi tersebut. Maka nabi bersabda “ingatlah
demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang dipercaya di langit dan di bumi
ini”. Dan aku tidak berpamitan untuk meninggalkan majlis Nabi Muhammad SAWmsehingga turunlah ayat ini.
Setelah turunnya surat ini,
rasulullah berangkat kerumah Fatimah r,a dan menyuruh putrinya tersebut
mengerjakan shalat dalam menghadapi segala kesulitan dalam hidup. Nabi Muhammad
SAW melakukan perbuatan ini yaitu menyuruh putrinya untuk shalat dalam
menghadapi kesulitan selama sebulan.
Inilah sunnah rasulullah yaitu menegakkan shalat ketika dilanda kesusahan.
Beliau menegakkan sunnah ini lewat dakwah bilhal, yaitu mengamalkan dan
memerintahkan sehingga orang-orang kafir yang salaf yang shaleh senantiasa
memelihara sunnah yang agung ini apabila dilanda kesusahan.[4]
3.
Analisis
Kependidikan
Didalam dunia pendidikan para pendidik, sudah barang tentu termasuk
orang-orang yang paling pertama terkena perintah pengarahan diatas, karena
pendidik adalah panutan yang akan senantiasa diikuti
dan ditiru, ia juga adalah penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak
berdasarkan iman dan ajaran islam. Jika pendidik tidak menghiasi dirinya dengan
taqwa, prilaku dan pergaulan yang berjalan di atas metode islam, maka anak akan
tumbuh menyimpang, terombang ambing dalam kerusakan, kesesatan dan
kebodohan.mengapa? karena anak melihat yang mendidik dan mengarahkannya telah
berada dalam lumpur dosa,berselimut kemungkaran dan kerusakan.sang anak tumbuh
tanpa ada penahan dari Allah,tanpa ada rasa muraqabah (mawas diri) kepada Allah
dan tanpa ada kendali dari batinnya.wajar jika sang anak kemudian ternoda
lumpur-lumpur dosa dan menyimpang dalam lingkungan jahiliyah dan zaman
kesesatan dan kehancuran.
Karenanya, para pendidik hendaknya memahami realitas
ini,jika menginginkan kebaikan ini, perbaikan dan petunjuk bagi anak-anak dalam
lingkungan alam yang suci dan bersih.[5]
C.
Qs Al-baqarah/2:183
1.
Teks ayat
Artinya
: “Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
2. Asbabun Nuzul
Dari Ibnu
Jarir dari Mu’adz bin Jabbal berkata bahwa rasulullah datang ke madinah pada
hari “Asyura kemudian beliau berpuasa, kemudian beliau berpuasa dan beliau
berpuasa 3 hari setiap bulannya. Kemudian Allah mewajibkan puasa Ramadhan
dengan menurunkan qs al baqarah diatas, maka saat itu ada yang berkeinginan
berpuasa, ada yang berbuka dan ada yang memilih untuk member makan orang
miskin. Kemudian Allah SWT mewajibkan berpuasa bagi orang yang muqim (tidak
bepergian) dan menetapkan kritera bagi yang memberi makan orang miskin yaitu
orang yang sudah tua dan tidak mampu untuk berpuasa dengan menurunkan ayat
selanjutnya.
Ibnu
Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini:”Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengajak bicara ummat ini, dan memerintahkan
kepada mereka untuk berpuasa. Puasa berari menahan diri dari makan, minum dan
menggaul istri, dengan niat ikhlash karena Allah ‘Azza wa Jalla. Karena di
dalamnya terdapat pembersihan,penyucian dan pemurnian jiwa dari
pengaruh-penguaruh buruk dan akhlak-akhlak yang tercela.”
Syaikh
as-Sa’di rahimahullah berkata:“Allah Ta’ala mengabarkan tentang
segala yang Dia karuniakan kepada hamba-hambaNya dengan cara mewajibkan atas
mereka berpuasa sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa itu atas umat-umat
terdahulu, karena puasa itu termasuk di antara syariat dan perintah yang
mengandung kemaslahatan bagi makhluk di setiap zaman, berpuasa juga menambah
semangat bagi umat ini yaitu dengan berlomba-lomba dengan umat lain dalam
menyempurnakan amal perbuatan dan bersegera menuju kepada kebiasaan-kebiasaan
yang baik, dan puasa itu juga bukanlah suatu perkara sulit yang merupakan
keistimewaan kalian.”
Kemudian
Allah Ta’ala menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa seraya berfirman, { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } “Agar kamu bertakwa,” karena sesungguhnya puasa itu
merupakan salah satu faktor penyebab ketakwaan, karena berpuasa adalah
merealisasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan di antara gambaran
yang meliputi ketakwaan dalam puasa itu adalah bahwa orang yang berpuasa akan
meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah seperti makan, minum, melakukan
jima’ dan semacamnya yang sangat diinginkan oleh nafsunya dengan maksud
mendekatkan diri kepada Allah seraya mengharapkan pahala dalam meninggalkan
hal-hal tersebut, inilah hal yang merupakan ketakwaan, di antaranya juga
sebagai gambaran bahwasanya orang yang berpuasa itu melatih dirinya dengan
selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, maka meninggalkan apa yang diinginkan
oleh nafsunya padahal dia mampu melakukannya karena dia tahu bahwa Allah
melihatnya.
Gambaran
lain dalam puasa adalah bahwasanya puasa itu mempersempit gerakan setan karena
setan itu selalu berjalan dalam tubuh manusia seperti jalannya darah, maka
puasa akan melemahkan pengaruhnya dan meminimkan kemaksiatan, di antaranya juga
bahwa seorang yang berpuasa biasanya akan bertambah ketaatannya, sedang
ketaatan itu adalah gambaran dari ketakwaan, yang lainnya lagi adalah bahwa
orang yang kaya bila merasakan susahnya kelaparan, pastilah ia menghibur kaum
miskin lagi papa, dan ini pun dari gambaran ketakwaan.[6]
3. Hadis
pendukung
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Artinya :
“Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah memberikan keringanan bagi musafir
untuk tidak mengerjakan separoh shalat. Dan memberikan keringanan bagi musafir,
wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa.” (HR.Abu Dawud)
4. Analisis
Kependidikan
Sebagai
orang yang beriman, ayat diatas mengajarkan kita untuk menjadi orang yang
bertakwa dengan melakukan puasa dibulan Ramadhan, dan mengikuti aturan-aturan
dalam berpuasa.
Ayat ini juga mendorong
umat ini agar semangat melakukannya, yakni hendaknya mereka berlomba-lomba
dengan generasi sebelum mereka dalam menyempurnakan amalan dan bersegera kepada
hal yang baik.
Puasa
bukanlah hal yang berat yang hanya dibebankan kepada kita. Ayat di atas
menerangkan bahwa puasa merupakan sebab terbesar untuk memperoleh ketakwaan.
Puasa merupakan tameng bagi seseorang dari perbuatan maksiat, karena ia dapat
melemahkan syahwat yang menjadi sumber maksiat.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah dipaparkan diatas kita ketauhi semua tindakan atau ibadah kita selaku
muslim, sudah ada didalam al qur’an maupun as sunnah, didalam keduanya terdapat
pendidikan ibadah baik secara tersirat maupun tersurat.
Tugas utama manusia hidup di dunia ini adalah beribadah kepada
Allah SWT. Ibadah kepada-Nya merupakan bukti pengabdian seorang hamba kepada
Tuhannya. Dari berbagai ayat dan hadis dijelaskan bahwa pada hakekatnya manusia
yang beribadah kepada Allah ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu
berpegang teguh kepada wahyu Allah dan hadis Nabi SAW.
2.
Saran
Dengan adanya makalah ini penulis berharap semoga makalah ini dapat
menambah wawasan dan pengetahuan tentang pendidikan aqidah dalam al qur’an dan
juga dapat dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Zainuddin, Fiqih Ibadah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002,
hal 1
Teungku Muhammad Hasbi
ash-Shiddieqy, Tafsir Al qur’anul Majid AnNnur, Jakarta: Cakrawala
publishing, 2011, hal 600
[1] Zainuddin, Fiqih
Ibadah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, hal 1
[2]
http://blitarq-doel.blogspot.com/2013/02/ayat-al-quran-tentang-ibadah.html
[3]
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al qur’anul Majid AnNnur, Jakarta:
Cakrawala publishing, 2011, hal 600
[4]
http://umat10slamet.blogspot.com/2011/11/shurat-thaha-ayat-131-132-tafsir.html
[5]
Syarifuddinblogspot.com2013
[6]
http://islami-myfavorite.blogspot.com/2011/06/puasa-perspektif-qs-al-baqarah-183-185.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar